MAPCLUB

Minggu, 26 Mei 2019

Pariwisata Halal Sebagai Sektor Potensial di Daerah Oleh: H. BADDRUT TAMAM, S.Psi (Bupati Pamekasan)


Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap Perekonomian
Sudah sejak lama, sektor pariwisata menjadi salah satu sektor ekonomi yang diandalkan benyak negara untuk mengeruk devisa dari kunjungan para wisatawan asing, dan penggerak sektor riil dari kunjungan wisatawan lokal. Bahkan tidak sedikit negara yang menjadikan pariwisata sebagai bagian dari skema penanggulangan kemiskinan. Di Indonesia, misalnya, mulai tahun 2005 koordinasi kebijakan bidang kesejahteraan rakyat yang dikomandoi Kemenko Kesra difokuskan pada harmonisasi dan penyatuan kebijakan peningkatan pembangunan pariwisata dan upaya pengentasan kemiskinan. Asumsinya, pengembangan potensi pariwisata secara optimal akan memberi kontribusi signifikan terhadap upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia.[1]
Pariwisata dijadikan fokus koordinasi karena sektor ini merupakan penyumbang devisa terbesar setelah ekspor migas. Selain itu pariwisata juga mampu berperan vital dalam penyerapan tenaga kerja dan pemberdayaan usaha mikro dalam jumlah tinggi pada derah-daerah tujuan wisata maupun daerah-daerah lain penghasil produk pasokan untuk menunjang industri pariwisata di berbagai tempat.
Setiap negara yang mengandalkan sektor pariwisata untuk mendongkrak devisa pasti sangat berharap arus kedatangan wisatawan asing dalam jumlah besar. Karenanya banyak negara berlomba-lomba mengemas paket wisatanya demi memancing minat wisatawan asing. Slogan-slogan khas sering diperdengarkan di berbagai forum. Misalnya, Yogyakarta sebagai salah satu destinasi favorit turis asing mengusung slogan, “Never Ending Asia”, sementara Malaysia menawarkan sensasi “Trully Asia.” Rivalitas itulah yang sering memicu sengketa antar negara seperti yang belakangan ini terjadi antara Indonesia dan Malaysia terkait iklan pariwisata Malaysia yang dinilai mengklaim produk seni-budaya Indonesia untuk dijadikan ikon wisatanya. Ibarat orang berjualan, pariwisata merupakan komoditas yang sering menjadi objek persaingan. Hal itu lumrah-lumrah saja dalam logika bisnis mengingat pariwisata memang sesuatu yang menggiurkan secara ekonomi.
            Sebagai contoh, sejak Presiden Joko Widodo menetapkan pariwisata sebagai sektor unggulan pembangunan nasional, dunia pariwisata Indonesia menjadi salah satu sektor ekonomi terbesar dan tercepat pertumbuhannya. Bahkan, pariwisata menjadi core economy negara ini ke depan. Melalui branding Wonderful Indonesia, peringkat pariwisata Indonesia di dunia berada di posisi ke-50 pada 2015. Bahkan, berdasarkan laporan resmi World Economic Forum, Indonesia berhasil melejit delapan peringkat hingga ke peringkat 42 pada 6 April 2017. Sebelumnya, di peringkat ke-70 dari 141 negara pada 2013.  Sektor pariwisata diproyeksikan mampu menyumbang produk domestik bruto sebesar 15%, Rp 280 triliun untuk devisa negara, 20 juta kunjungan wisatwan mancanegara, 275 juta perjalanan wisatawan nusantara dan menyerap 13 juta tenaga kerja pada 2019. Lebih jauh, sektor pariwisata diyakini mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih tersebar di seluruh negeri ini.[2] 
Hal tersebut menjadi indikasi bahwa potensi pariwisata selama ini sudah diposisikan sebagai pilihan sektor yang strategis bagi upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia. Bahkan seperti dijelaskan di atas, mulai tahun 2005 di Indonesia sudah ada kebijakan untuk mengintegrasikan antara pengembangan pariwisata dan upaya penanggulangan kemiskinan. Hal ini menjadi mungkin karena dampak dari pertumbuhan sektor pariwisata bisa berpengaruh terhadap berbagai sektor yang lain. Misalnya, pertanian, pertambangan, industri, listrik, gas dan air bersih, konstruksi, perdagangan, hotel dan restoran, transportasi, komunikasi, ekonomi kreatif, dan lain sebagainya. Keadaan tersebut mengindikasikan betapa luas dan beragamnya sektor-sektor ekonomi lainnya yang terkena imbas kolateral dari dinamika industri pariwisata. Dan jangan juga dilupakan sistem jejaring usaha akselerasi pertumbuhan ekonomi melalui jalur pariwisata juga berefek luas secara jangkauan di masyarakat (Demartoto dan Sugiarti, 2009).[3]

“Wisata Halal”, Tren Baru Industri Pariwisata
Sebagai entitas ekonomi, pariwisata pun berjalan dengan dalil-dalil dasar ekonomi, terutama ekonomi industri. Salah satunya, industri pariwisata senantiasa dituntut kreatif dan inovatif dalam menciptakan peluang-peluang baru yang berpotensi menciptakan komoditas wisata yang orisinil, otentik, fresh, dan punya nilai kebaruan untuk menggantikan objek wisata lama yang sudah mencapai titik jenuh. Hanya dengan begitu, industri pariwisata tidak akan “mati gaya” dalam mempromosikan produk-produk pariwisata kepada calon wisatawan. Lebih-lebih kepada calon wisatawan asing yang memang punya ekspektasi tinggi terhadap pilihan destinasi wisata yang hendak mereka datangi.
Salah satu terobosan dan inovasi itu adalah kelihaian produsen industri wisata untuk mengemas tren wisata baru. Misalnya, wisata halal. Secara konseptual, wisata halal sebenarnya tidak jauh berbeda dengan wisata pada umumnya. Wisata halal merupakan konsep wisata yang memudahkan wisatawan Muslim untuk memenuhi kebutuhan berwisata mereka. Kebutuhan itu antara lain: adanya rumah makan bersertifikasi halal, tersedianya masjid/musholla di tempat umum, adanya fasilitas kolam renang terpisah antara pria dan wanita, dan lain-lain. Sehingga wisata halal bukan hanya meliputi keberadaan tempat wisata ziarah dan religi, melainkan juga mencakup ketersediaan fasilitas pendukung, seperti restoran dan hotel yang menyediakan makanan halal dan tempat shalat, serta persyaratan lainnya. Maka, Pengembangan wisata halal menjadi alternatif bagi industri wisata di Indonesia seiring dengan tren wisata halal yang menjadi bagian dari industri ekonomi Islam global (Jaelani, 2017).[4]
Dinamika pariwisata dunia dalam tiga tahun terakhir dipengaruhi oleh peningkatan jumlah perjalanan antar negara dan pertumbuhan perekonomian terutama di kawasan Asia Pasifik. Pasar perjalanan muslim terus menjadi salah satu segmen yang paling cepat berkembang di industri perjalanan dunia. Pada tahun 2015, ada 117 juta pergerakan wisatawan muslim internasional. Angka tersebut diproyeksikan akan terus tumbuh menjadi 168 juta wisatawan muslim pada tahun 2020, di mana pengeluaran perjalanan wisatawan muslim diperkirakan akan melebihi US$220 miliar.[5]



Potensi Wisata Halal di Madura/Pamekasan
            Secara potensi, banyak destinasi wisata di Madura, khususnya Pamekasan yang sangat menjanjikan. Baik itu destinasi wisata alam, budaya, wisata kuliner maupun wisata religi. Dalam catatan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pamekasan, setidaknya ada delapan (8) destinasi wisata favorit di Pamekasan, yakni:
  1. Gua Blaban
  2. Bukit Waru
  3. Vihara Avalokitesvara atau Kelenteng Kwan Im Kiong
  4. Pantai Talang Siring
  5. Rawa Mangunan
  6. Pantai Jumiang
  7. Air Terjun Durbugen 
  8. Wisata Api Tak Kunjung Padam

Delapan objek wisata tersebut, dan berbagai objek wisata potensial lainnya tentu saja sangat mungkin dikelola dan dijalankan dalam kerangka paradigma “wisata halal.” Sebab dalam konteks wisata halal, yang penting bukan pada jenis objek wisatanya, melainkan pada bagaiman cara kita mengelola objek wisata tersebut.
Dalam kaitan potensi pelaksanaan wisata halal tersebut, Madura dan Pamekasan pada khususnya tentu memiliki potensi yang sangat besar. Sebab di Pulau Garam ini, konstruksi sosiologis dan antropologis masyarakatnya sangat Islami. Selain secara demografis mayoritas warga Madura beragama Islam, sistem sosial dan kebudayaannya juga kuat dipengaruhi kultur Islam. Begitu pula dengan sistem pendidikan di Madura yang masih didominasi oleh sistem pendidikan madrasah dan pesantren. Demikian pula dengan pola relasi sosial dan stratifikasi social yang masih menempatkan Ulama (Kiai) sebagai figur penting di tengah masyarakat.[6]
Konstruksi sosial-budaya semacam itu yang dapat dijadikan modal dasar bagi Pamekasan (dan juga Kabupaten yang lain) untuk mulai menata potensi wisata dalam kerangka wisata halal agar dapat memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Hal ini penting agar potensi besar di sektor wisata halal tersebut dapat terkonversi secara maksimal demi kesejahteraan rakyat.  Maka, salah satu cara yang harus dikembangkan adalah mengubah cara berpikir kita. Dari awalnya manual, konvensional, bergeser pad acara berpikir milenial dan modern.

Industri Wisata Halal Pamekasan Menuju Revolusi Industri 4.0
Adalah Prof Klaus Schwab, Ekonom terkenal asal Jerman, dalam bukunya, “The Fourth Industrial Revolution untuk pertama kalinya mengenalkan konsep Revolusi Industri 4.0 (generasi keempat). Prof Schawab (2017) menjelaskan revolusi industri generasi ke-4 ini memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah. Bidang-bidang yang mengalami terobosoan berkat kemajuan teknologi baru diantaranya (1) kecerdasan buatan (artificial intelligence), (2) teknologi nano, (3) bioteknologi, dan (4) teknologi komputer kuantum, (5) blockchain (seperti bitcoin), (6) teknologi berbasis internet, dan (7) printer 3D.
Revolusi industri 4.0 merupakan fase keempat dari perjalanan sejarah revolusi industri yang dimulai pada abad ke -18. Revolusi industri mengalami puncaknya saat ini dengan lahirnya teknologi digital yang berdampak masif terhadap hidup manusia di seluruh dunia. Revolusi industri terkini atau generasi keempat (revolusi industri 4.0) mendorong sistem otomatisasi di dalam semua proses aktivitas. Teknologi internet yang semakin masif tidak hanya menghubungkan jutaan manusia di seluruh dunia tetapi juga telah menjadi basis bagi transaksi perdagangan dan transportasi secara online. Munculnya bisnis transportasi online seperti Gojek, Uber dan Grab, maupun online shop seperti Tokopedia, Lazada, Buka Lapak, dan sebagainya menunjukkan integrasi aktivitas manusia dengan teknologi informasi dan ekonomi menjadi semakin meningkat. Berkembangnya teknologi autonomous vehicle (mobil tanpa supir), drone, aplikasi media sosial, bioteknologi dan nanoteknologi semakin menegaskan bahwa dunia dan kehidupan manusia telah berubah secara fundamental.[7]
            Dalam konteks ini, modernisasi industri pariwisata (terutama wisata halal) di Pamekasan harus mengikuti alur revolusi industri 4.0 tersebut jika kita tidak ingin ketinggalan laju perubahan global. Segalanya harus ditata secara sistemik, terintegrasi satu sama lain dan dapat dioperasikan secara cepat dengan berbasis pada teknologi digital.
            Dalam kaitan tersebut, proses modernisasi industry wisata halal di Pamekasan dapat dimulai dengan memperbaiki beberapa hal berikut ini.
  1. Pemutakhiran Dokumen Perencanaan (regulasi, RPJMD)
Semua proses perubahan dalam pemerintahan harus dimulai dengan penyusunan dokumen perencanaan yang baik. Dalam konteks ini, dokumen perencanaan tersebut dapat berbentuk RPJMD (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah) yang harus memuat proyeksi pembangunan di Kabupaten Pamekasan secara detail dan holistis. Termasuk dalam hal ini, visi untuk memodernisasi industri wisata halal wajib menjadi salah satu poin penekanan dalam RPJMD Pamekasan lima tahun ke depan.
  1. Perbaikan Infrastruktur
Modernisasi industri pariwisata di Pamekasan harus didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang layak dan memadai. Mustahil kita kampanye kepada para wisatawan nasional maupun internasional untuk berkunjung ke Pamekasan, namun infrastruktur dasar yang menunjang sector pariwisata masih jauh dari memadai. Dalam konteks ini, kami memang concern untuk memodernisasi Pamekasan dan segala aspeknya melalui perbaikan infrastruktur.
  1. Penguatan Pemanfaatan Teknologi
Di era revolusi industri 4.0 seperti sekarang ini, penggunaan teknologi digital wajib hukumnya. Karena itu, untuk mendukung modernisasi wisata halal di Pamekasan, haram hukumnya di Pamekasan ada wilayah yang masih blank-spot (wilayah yang belum teraliri akses listrik dan akses internet). Karena itu, dalam kaitan ini, kami juga berkomitmen untuk menghadirkan akses internet sehat hingga ke seluruh sudut wilayah Pamekasan.
  1. Pamekasan Pro Millenial
Harus diakui, secara kultural, wilayah Madura masih mempunyai steriotape (pelabelan buruk) yang tidak mengenakkan di mata calon wisatawan. Misalnya, Madura daerah yang rawan praktik carok, masih susah diakses, “ndeso”, dan sebagainya. Karena itu, kita juga harus mengubah segala stigma negative tersebut. Untuk mewujudkan pengarusutamaan wisata halal di Pamekasan (dan Madura pada umumnya), kita harus membangun strategi komunikasi publik yang menarik dan berwawasan milineal. Sehingga calon wisatawan (yang didominasi kalangan milenial), akan tertarik untuk berkunjung ke Madura (Pamekasan).


[1] Tripitono, Adi Wibowo. 2013. Perencanaan Desa Wisata Berbasis Pembangunan Berkelanjutan. Yogyakarta: Diandra Publishing
[2] https://ekbis.sindonews.com/read/1231216/34/kontribusi-pertumbuhan-pariwisata-di-sektor-ekonomi-terbesar-dan-tercepat-1502940648
[3] Demartoto, Argyo dan Rara Sugiarti. 2009. “Pengembangan Pariwisata untuk Menanggulang Kemiskinan (Pro poor Tourism)”, dalam Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat. Argyo Demartoto (Penyunting). Surakarta: Sebelas Maret University Press.

[4] Jaelani, Aan. 2017. Halal Tourism Industry in Indonesia: Potential and Prospects. Online at https://mpra.ub.uni-muenchen.de/76237/MPRA Paper No. 76237, posted 17 January 2017 02:56 UTC
[5] https://venuemagz.com/event/potensi-besar-wisata-halal-di-jawa-timur/
[6] Terkait tentang relijiusitas masyarakat Madura, dapat dilihat dari hasil kajian Syariffuddin Mahmudsyah (2011), dalam http://www.lontarmadura.com/kepatuhan-dan-religiusitas-orang-madura-2/
[7] Lihat lebih lengkap pembahasan mengenai hal ini dalam buku Disruption: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber yang ditulis oleh Reynald Kasali (2017) yang diterbitkan Gramedia Jakarta



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SOSIALISASI, BIMTEK DAN PEMBINAAN CABOR FORMI

TANTANGAN FORMI KEDEPAN LEBIH BESAR TERUTAMA  RENCANA PERUBAHAN DARI FEDERASI OLAHRAGA REKREASI MASYARAKAT INDONESIA ( FORMI ) MENJADI KOMIT...